Kisah berikut ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami oleh teman saya sewaktu ia hendak pulang dari Pesanteren menuju kampung halamannya pada waktu libur mengajar. Kronologi kejadian ini terjadi ketika ia (sebut saja namanya Rahman) sedang diperjalanan. Berikut kisahnya.
![]() |
| Penjual Kerupuk img |
Berawal dari niat ingin menghabiskan waktu libur bersama keluarga dikampung, Rahman pada pagi hari itu sudah bersiap-siap menuju terminal untuk menunggu angkutan umum. Sebelum Rahman tiba di terminal, ia melihat seorang lelaki separuh baya sedang berjalan dengan tongkatnya sambil memikul kerupuk dagangannya. Seketika itu pula terbersit dalam pikiran Rahman untuk membeli kerupuk sebagai Oleh-Oleh bagi anak dirumah.
Rahman: Pak, kerupuk Pak!
Penjual Kerupuk: Iya nak
Rahman: Saya mau beli 5 bungkus Pak
"Dengan meraba-raba si Penjual Kerupuk tampak sedang menghitung jumlah kerupuk yang akan diberikan pada Rahman. Setelah ia merasa yakin dengan jumlah kerupuk yang ada ditangannya sesuai jumlah permintaan, maka ia pun menyuguhkan kerupuk itu kepada Rahman sambil berucap,
Penjual Kerupuk: Ini nak kerupuknya.
Rahman: Jadi berapa Pak semuanya?
Penjual Kerupuk: Jadi Rp. 25.000, nak
Rahman: Oh, ini Pak uangnya.
"Ketika Rahman memberikan uang pecahan Rp. 50.000 itu, seketika itu juga ia berpikir dan merasa ingin tahu bagaimanakah kiranya cara si Bapak yang buta ini memberikan uang kembalian setiap orang yang membeli kerupuk kepadanya. Saat itu juga terniat oleh Rahman untuk menguji si Penjual Kerupuk bagaimana caranya bila ia sedang mengembalikan uang kembalian kepada para pembeli dagangannya."
Penjual Kerupuk: Uang yang kamu bayarkan ini pecahan berapa nak?Rahman: Pecahan Rp. 100.000 Pak, kembali Rp. 75.000 lagi.
Penjual Kerupuk: Sebentar ya nak, saya ambilkan kembaliannya dulu.
"Sambil merogoh kedalam tasnya si Penjual Kerupuk spontan mengambil hampir seluruh uang yang ada didalam tas si Penjual Kerupuk tersebut. Uang itu kemudian langsung diberikan kepada Rahman yang jumlah uang itu sendiri menurut perkiraan Rahman pada waktu itu adalah lebih dari Rp. 200.000."
Penjual Kerupuk: Ini nak kembaliannya
"Seketika itu juga sontak Rahman merasa pilu dan sangat kasihan melihat keadaan dan kepolosan si Penjual Kerupuk tersebut. Namun, yang lebih membuat hati Rahman lebih pilu dan merasa terharu adalah.......
Rahman: Pak, sebenarnya uang yang saya berikan kepada Bapak adalah sebesar Rp. 50.000. Adapun uang kembalian yang sedang Bapak sodorkan kepada saya saat ini menurut perkiraan saya adalah lebih dari Rp. 200.000, dan tadi sebenarnya saya hanya ingin melihat bagaimana cara Bapak mengembalikan uang kembalian setiap orang yang membeli dagangan Bapak. Dan hasilnya adalah saya sangat terharu melihat kondisi Bapak yang seperti ini.
"Mendengar penuturan Rahman tersebut, dengan seberkas senyuman kecil sang Penjual Kerupuk pun menimpali,
Penjual Kerupuk: Ketahuilah nak, Sesungguhnya Allah tidak mungkin salah alamat dalam mengirimkan rezeki!
"Mendengar ucapan si Penjual Kerupuk tersebut sontak bukan main hati Rahman bergetar antara merasa takut sekaligus terharu. Alasan ia takut ialah karena Rahman semakin merasakan akan Kebesaran Sang Pencipta.Sesaat kemudian hati Rahman tergerak untuk tidak menerima uang kembaliannya dan memberikannya kepada si Penjual Kerupuk sebagai sedekah.
Rahman: Pak, kembaliannya Bapak simpan saja. Sesungguhnya saya sudah menerima lebih dari apa yang saya berikan ini.
Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah diatas adalah agar kita senantiasa bisa mensyukuri segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita, dengan perantara apapun yang Allah Kehendaki. Dan kita hendaknya jangan sekali-kali berbuat semena-mena terhadap orang lemah, sekalipun kita bisa dengan leluasa melakukannya, terlebih jika kita adalah sebagai seorang pimpinan/ pejabat yang berkedudukan tinggi.
"Hendaklah seorang Pemimpin senantiasa memperhatikan nasib orang-orang yang dipimpinnya dengan sebaik-baiknya, sebab sebaik-baik Pemimpin adalah Pemimpin yang dicintai oleh orang-orang yang ia pimpin, kemudian ia pun mencintai mereka. Dan seburuk-buruk Pemimpin ialah Pemimpin yang dibenci oleh orang-orang yang ia pimpin, dan ia pun membenci mereka."
Semoga bermanfaat...

No comments:
Post a Comment